Tak henti-hentinya aku berdecak kagum..Wanita tua itu ternyata masih sangat cekatan.Walau wajahnya sudah berkeriput namun kelincahannya tidak kalah dengan gadis mungil yang disampingnya. Aku taksir wanita tua itu berusia 55 tahun keatas, sementara gadis mungil itu berusia sekitar 15-an..
Aku merogoh saku..ternyata masih ada 1 lembar 1o-ribuan…Tiba-tiba aku ingin membeli gorengan wanita tua itu. Bukan karena lapar, namun karena rasa kagum kepada wanita tua itu.
“Pisang gorengnya lima ribu, bu” Kataku sambil menyodorkan uang lima ribu tadi. “Pisang gorengnya udah habis..yang sisa tinggal tahu isi dan bakwan” Jawab Wanita tua itu.
“Oh itu aja bu…pake sambal kacang ya” Kataku lagi…
Sebenarnya aku ingin sekali makan pisang goreng. Aku sudah rindu makan pisang goreng..Dulu hampir tiap hari, kalau tidak pagi ya sore, ibu membuatkan pisang goreng untuk kami makan…Dan aku biasanya akan membuatkan kopi atau teh manis untuk ayah…dan kami makan pisang goreng sambil bercerita-cerita….Diwaktu seperti itu ayah sering menasehatiku dan memberi wejangan hidup..
Sambil menunggu pesananku selesai, aku memerhatikan gadis mungil yang disamping wanita tua itu. Selain membantu wanita tua itu menjual gorengan, gadis mungil itu juga menjajakan minuman dan rokok. Gadis mungil itu berkulit putih.., bukan… kuning rasanya..Bukan kuning langsat, kuning manado. Cantik….
“Aqua botolnya 1. Berapa?” sambil menyodorkan duit 5-ribuan kembalian dari wanita tua tadi. “Tiga ribu” Jawabnya menyodorkan aqua botol dan duit kembaliannya.
Wanita tua itu mengingatkanku kepada ibuku…seorang ibu nomor 1 didunia, yang selalu mendahulukan anak-anaknya,rela tidak beli baju baru demi baju baru anak-anaknya…rela tidak bercincin emas atau perhiasan lainnya demi sekolah anaknya…Ya ibuku ibu nomor 1, ibu yang membanting tulang tanpa pernah mengeluh demi masa depan anak-anaknya. Wanita tua itu rasanya lebih tua sedikit dibanding ibu..Seharusnya di usia tersebut dia menikmati masa tuanya..tanpa perlu lagi berpeluh keringat hanya untuk sesuap nasi.
Dan gadis mungil itu kupikir juga tak kalah mengagumkan. Diusianya yang masih remaja, sarat gengsi, dia tidak malu untuk berjualan di stasiun kereta. Yah..inilah perjuangan hidup..Saat ini aku juga sedang berjuang untuk hidup, berjuang untuk bertemu dengan seseorang yang kucintai. Dua hari lagi aku akan mengikuti ujian untuk beasiswa luar negeri. Sambil memakan bakwan dan tahu isi sambal, aku kacang itu aku mulai merenung hingga mengkhayal…Bahkan bunyi bising klakson kereta api dan pengumuman petugas kereta api tidak kudengarkan..
Aku tersadar ketika seseorang menegurku..”Misi mas” kudengar suara seorang wanita. Secara refleks kualihkan pandanganku ke arah asa suara itu dan menyingkir..Seorang wanita muda bergandengan dengan seorang lelaki yang sudah agak tua, mungkin pacarnya, suaminya, simpanannya, ‘tamunya’ atau bokapnya….Entahlah, aku tidak mau ambil pusing.
Ku perhatikan langkah mereka hingga masuk ke kereta…Orang-orang turun dan naik berebutan. walau tidak berdesak-desakannya tidak separah dibusway. Dan anehnya aku tetap saja memandang kearah kereta api itu..memandang penumpang-penumpang itu..hingga terus memandang kereta api itu berjalan… Kulihat handphoneku..Jam sudah menunjukkan jam 7 malam. Sudah hampir 3 jam aku menunggu di stasiun ini. Orang yang ku tunggu belum datang juga. Kuputuskan untuk berangkat 1/2 jam lagi meski orang tersebut tidak datang.
Pemberitahuan petugas kedengaran dari pengeras suara bahwa kereta api jurusan Kota-Bogor akan segera tiba. Aku terus memandang pintu masuk penumpang, sambil sesekali melihat handphoneku. Berharap yang kutunggu,segera tida. Karena tak kunjung datang, kuputuskan untuk masuk ke kereta. Kumasukkan tasku ke bagasi dan segera duduk. Dalam tempo 15 menit lagi kereta ini akan berangkat..Aku berdoa dalam hati agar dalam waktu 15 menit ini aku bisa melihatmu karena mungkin besok dan selamanya kita tidak akan pernah bertemu lagi.
Doaku dijawab Tuhan…Handphoneku berbunyi….Terlihat di screen handphone nama “Yusma”. Aku buru-buru mengangkat telepon itu. “Mas ada dimana, Jurusan Kota-Bogor belum berangkat kan? Aku ada di depan gerbong ketiga” Kudengar suara terburu-buru. Suara indah dan merdu yang selalu ingin kudengar. “Yah aku akan turun” kataku sambil setengah berlari ke arah pintu..
Kupandangkan mataku ke arah depan, sambil berjalan ke arah gerbong 3. Aku belum melihatnya, kerumunan orang keluar masuk terlalu ramai.
“Halo kamu dimana yus? Kamu pakai baju apa? Saya berjaket hitam” Ya jaket hitam ini menjadi ciriku…Jaket klub sepakbola favoritku, Juventus, yang pertama kubeli dengan hasil keringatku.
Tiba-tiba kulihat lambaian tangan….”Yusma” seruku..Yusma berlari menghampiriku dan aku juga menyusulnya. Aku ingin memeluknya, namun pikiranku untuk tidak melakukannya. Biasanya pikiran akan dikalahkan hati, namun untukku, apalagi untuk Yusma, wanita yang pertama yang kucintai, dan mungkin yang terakhir, meski dia tidak pernah membalas cintaku. Aku memang tidak pernah menyatakan cintaku padanya, karena aku sadar dengan perbedaan kami…bagai bumi dan langit.
Dia menitikkan air mata. “Mas, maafkan aku…” Katanya terisak…Kugerakkan jari telunjukku pada bibirnya yang merah merekah..Aku tahu dia tidak akan mampu melanjutkan kata-katanya.
“Hidup akan terus berjalan sama seperti kereta api ini, Yus. Sama seperti penumpang yang harus sabar menunggu kereta api, kita juga harus sabar dalam hidup ini. Yakinlah perjuangan kita tidak sia-sia” Kataku padanya. Dia hanya tersenyum. Aku melihat perubahan mimik mukanya…Wajahnya berbinar. Aku menghapus air matanya dengan tissue.
“Kata-kata hebat dari seorang lelaki hebat” Katanya. “Kau yang mengajarkannya padaku Yus…Terima kasih telah mengajarkannya padaku”. Dia tersenyum…Senyum yang indah sama seperti senyum ibuku dan ayahku. Yah senyum dari orang-orang yang sangat kucintai. “Yus,….” aku berhenti berbicara seketika saat mendengar pengumuman dari petugas bahwa para penumpang diharap masuk ke kereta karena kereta akan segera berangkat.
Sebenarnya aku ingin mengatakan ” aku mencintaimu”, tapi dengan waktu yang tidak sempat lagi aku berubah pikiran. “Yus, aku mau berangkat. Jaga dirimu baik-baik” Kataku sambil menyalamnya
Dari wajahnya aku merasakan bahwa Yusma menangkap perubahan pikiranku ini, dan aku tahu dari mimik wajahnya dia juga mengharapkan kata-kata itu. Tapi dia menjawabnya “Jaga dirimu baik-baik mas….”
Aku tidak sempat mendengarkan semua kata-katanya karena buru-buru masuk ke kereta api. Tapi aku tersenyum puas…aku pergi sebagai seorang pemenang.
Aku melihat lambaian tangan Yusma dan sepertinya dia berteriak mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak mendengarnya. Kereta api berlahan-lahan berjalan.
Aku kembali duduk dibangkuku sebelumnya. Sambil memikirkan ulang apa yang barusan kualami.
Walau waktu itu sangat singkat, aku berjanji akan tetap mengingatnya. Maukah kamu untuk mengabadikannya juga ? Abadikan perpisahan ini, Yus…kenang, kenanglah aku.
Tahukah kamu Yus…sebenarnya aku mengharapkan lebih dari itu. Aku mengharapkan ucapan “Aku mencintamu” dari dirimu. Aku mengharapkan ciuman dan pelukan hangat darimu..Akh..aku mungkin terlalu berharap lebih. Bertemu denganmu saja rasanya suatu anugrah yang luar biasa.
Meski kata itu tidak pernah kau ucapkan, meski tidak ada ciuman dan peluk hangat, aku tahu dari dasar hatimu kau juga mencintaku. Hanya saja nasiblah (bukan takdir) yang memisahkan kita. Perbedaan status, agama dan suku menjadi penghalang. Entah kenapa di negeri yang konon katanya Negara PANCASILA, yang menghormati pluralisme, ternyata masih sangat sulit menerima dan menghargai pluralisme. Dan kebanyakan yang tidak menerimanya adalah orang-orang hebat dipemerintahan ini, seperti orangtuanya Yusma.
Karena itulah Yus, aku tidak mengucapkan sepatah janji kepadamu. Juga tidak mengharapkan janji untuk setia menungguku. Aku ingin menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa.. Aku ingin semua berjalan seperti yang sudah ditakdirkan (meski aku kurang percaya dengan yang namanya ‘takdir’). Aku ingin semuanya berjalan seperti kereta api yang berlahan-lahan membawaku.
Aku berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat…Yah aku ingin bertemu lagi denganmu, meski perasaan itu tidak ada lagi. Biarlah stasiun kereta api ini menjadi bukti bahwa kita pernah saling mencinta. Biarlah stasiun kereta api ini menjadi stasiun cinta pertamaku, menjadi stasiun untuk mengalahkan pluralisme dan kecongkakan dunia sama seperti stasiun bagi orang lain yang menggantungkan hidupnya pada stasiun ini.
“Jaga dirimu baik-baik. I’ll be in every beat of your heart“
Note : menjadi seorang penulis merupakan salah satu cita-citaku dulu….Dalam penulisan sastra (terutama puisi dan prosa/cerita) saya lebih menyukai mengambil dalam sudut pandang orang pertama. Alasannya tentu saja supaya tidak ada yang tersinggung.
Sebenarnya aku ingin memberi judul “stasiun cinta pertama” tapi rasanya kurang cocok

bagus ini cerpennya