Feeds:
Pos
Komentar

Sewaktu saya dulu baru masuk kuliah, saya bercita-cita menjadi seorang hacker dan kriptanalis yang hebat. Alhasil di semester I dan II saya banyak berkutat di bidang system, networking, database, dan security. Diwaktu itu saya sangat menikmatinya, bahkan saya tidak tertarik dengan hal-hal yang lain. Saya pernah mengecrack software (membajak software, menemukan serial number atau mengaktivasinya), mendeface website (saya tidak perlu sebutkan…), mereverse engineering aplikasi/software, juga database (dilakukan di ujian akhir Semester II), membuat virus (tidak saya sebarkan, tapi disebarkan oleh teman saya yang tanpa sengaja mengeklik folder harddisk eksternal saya yang dipinjamnya). Mungkin satu-satunya kejahatan umum yang tidak saya lakukan adalah carding. Itu pun karena takut ditangkap polisi (sering nonton di film, para carder rata-rata ketangkep sama pihak yang berwajib). Beberapa teman (bahkan senior dan junior ) sampai minta diajari.

Apa ini udah disebut hacker?😀. Well, saya bukan hanya sekedar script kiddies, meski saya akui saya banyak menggunakan tools buatan orang lain juga. Akan elbih mudah dan menghemat resource jika menggunakan resource yang sudah ada, tinggal meng-enhance atau mengkostumisasi sesuai kebutuhan (ini salah satu alasan saya mendukung open-source). Tapi semuanya itu berubah setelah saya menghadapi banyak masalah. IPK yang tidak memuaskan (tapi tidak terlalu jelek tapi jauh dari ekspektasi, dimana IPK hingga saat ini masih tolak ukur keberhasilan mahasiswa :p). Saya bahkan hampir pernah di drop out karena melakukan kecurangan: mereverse engineering database/crack saat ujian akhir dan membagikan source code program saya saat ujian pada teman-teman di 2 (kalau tidak salah) mata kuliah lainnya. Untuk reverse engineering database, dosen saya mencurigai saya karena (saya silap) hasil pekerjaan saya persis bngt dengan aslinya. Ketahuan karena saya tidak pintar berbohong (resiko jarang bohong..:D) ketika diinterogasi. Untuk mata kuliah lainnya sebenarnya saya tidak ketahuan, tetapi karena rasa takut dan salah satu teman ketakutan juga, akhirnya kami sepakat untuk “mengaku  kejahatan yang kami lakukan”. Saya terancam di drop out, untung saja wali kelas saya masih membela saja. Yang pastinya dosen-dosen saya tersebut sangat kecewa kepada saya, karena boleh dibilang saya adalah salah satu anak kesayangannya (bahkan dulu sewaktu PMDK saya diinterview oleh beliau). Untungnya saya tidak jadi di expelled. Tetapi nilai dan reputasi saya hancur. Mata kuliah yang tadi masing-masing 4 sks. Nilai saya yang saya prediksikan harusnya dapat nilai A atau B, jatuh menjadi dapat nilai D. Hacking dan security yang semula menyenangkan akhirnya saya putuskan untuk berhenti.

IPK saya jatuh dan semangat saya hancur, dan saya sempat waktu itu minta pindah ke universitas lain, tetapi saya tidak diijinkan orang tua saya karena kondisi kesehatan saya (alasan yang sama saya tidak diijinkan mengambil kursi PMDK di IPB). Saya mencoba bertahan, tetapi tidak pernah bisa fokus, selalu dihantui perasaan bersalah dan malu. Hasilnya bisa ditebak, nilai saya semakin jatuh. Kondisi kesehatan saya semakin memburuk, hingga akhirnya saya masuk rumah sakit dan dioperasi karena masalah usus berlipat, katanya operasi saya sewaktu masih SMP tidak rapih. Saya masuk rumah sakit, tepat sebelum matrikulasi mahasiswa baru berlangsung, saat itu saya dipercaya sebagai salah seorang asdos (bahkan ditunjuk jadi koordinator asdos). Kondisi saya waktu itu sangat kritis, disaat itulah saya menemukan kembali semangat, bahkan Amazing Grace (saya berjanji jika saya sembuh saya akan jadi pelayan Tuhan dan puji Tuhan, saya akhirnya sembuh setelah mengalami operasi sepanjang 30 jahitan/hecting). Bahkan waktu itu saya mengikuti lomba open sourcee dan meraih juara 2 dan memperoleh kesempatan presentasi di auditorium yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa😀. Saya juga mulai mengerjakan aplikasi-aplikasi kecil yang saya harapkan berguna, paling tidak bisa membantu (see some my stuff here)

Ketika tahun 2013 saya mengikuti Mission Trip PAKSU dari PAKSU, saya menyempatkan diri mampir ke kampus. Beberapa junior dan calon mahasiswa yang masih diospek (yang semuanya tidak saya kenal) banyak meminta saya untuk mengajari mereka (mungkin mereka kenal saya dari beberapa junior saya yang menjadi asdos). Wah saya berpikir saya terkenal juga, sayangnya terkenal karena “keburukan”. Saya hanya menyarankan merekan agar fokus dan belajar baik-baik. Karena dengan belajar baik-baik secara tidak langsung mereka sedang belajar menjadi hacker. Menjadi seorang hacker itu tidak mudah, dibutuhkan kemampuan (pengetahuan sistem operasi, programming, database, networking, dan security) dan kesabaran. Hacking bukan hanya sekedar melakukan “kejahatan”.

Pada dasarnya semua pekerja IT harus mengerti pentingnya keamaman. Saya sering gonta-ganti pekerjaan (mulai dari system administrator, network engineer, DBA, system analyst, dan terakhir sebagai QA/BA), semuanya membutuhkan pengetahuan tentang keamanan. Jangankan melakukan pentest (penetration test), sebagian rekan-rekan (programmer) benar-benar tidak memberi perhatian mengenai keamanan, masih terpaku dengan prinsip “Asal Jadi”. Memang tidak ada sistem yang sempurna, tetapi rata-rata sistem atau program yang ada sangat rentan terhadap berbagai ancaman keamanan, bahkan pada serangan yang sederhana sekalipun.

Sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan ini, tapi gak sempat-sempat (rasanya waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu itu kurang :D). Pas sempat. kadang lupa (yah…mau gimana lagi, usia memang tidak pernah bohong :lol).
Belakangan ini saya sering tidak puas dengan pelayanan maupun produk yang saya pergunakan. Mungkin berhubung karena sudah banyak makan asam garam (usia memang sudah tidak terlalu muda lagi :lol), atau karena ekspektasi yang saya harapkan terlalu tinggi (ada banyak faktor, salah satunya harga produk atau layanan yang memang cukup mahal, kualitas produk maupun pelayanannya tidak sebanding), saya sering mengeluh.

Keluhan saya biasanya saya sampaikan secara langsung, belum pernah menggunakan media (saya dari dulu sudah tahu YLKI dan Surat Pembaca di berbagai media massa). Salah satu yang membuat saya malas menggunakan media untuk menyampaikan keluhan adalah kemungkinan dianggap melakukan pencemaran nama baik, fitnah, atau apa pun istilahnya (Masih segar dalam ingatan kasus Prita Mulyasari – Rumah Sakit Omni Internasional), dan jujur saja saya sedikit takut (dulunya). Faktor lainnya adalah saya takut jika saya punya urusan lain di kemudian hari akan dipersulit. Yah pada dasarnya saya ingin bermain aman. Pernah dulu ada masalah dengan layanan perbankan (kejadiannya tahun lalu), namun saya memilih untuk “melawan dalam diam”, melawan tanpa kekerasan istilah kerennya (orang bilang ini adalah “Ahimsa” ajaran Mahatma Gandhi). Ya cukup sekali saja, setelah itu saya tidak akan menggunakan layanan atau produk tersebut (jika tidak terpaksa :D).

Nah, kali ini saya tidak akan membahas banyak mengenai rasa malas atau takut untuk menyampaikan keluhan konsumen, yang pastinya bukan hanya dialami oleh saya sendiri, tapi ada banyak orang yang saya yakin mengalami hal yang sama. Mungkin akan saya tuliskan lain waktu. Fokus saya peran media massa, Internet, dan YLKI.

Dengan adanya Internet, harus saya akui informasi keluhan konsumen sangat cepat disampaikan. Produsen maupun penyedia layanan rata-rata sudah punya website yang menyediakan layanan konsumen, nomor telepon, email, chat dan berbagai layanan di websitenya. Bahkan juga membuat akun di sosial media, sebut saja Twitter dan Facebook; selain sebagai media promosi-marketing, akun sosial media tersebut juga menjadi sarana layanan konsumen. Sebelum tren ini muncul (yang mana juga salah satu pengaruh e-commerce), konsumen memilih menghubungi via telepon dan atau mengirimkan surat kepada produsen atau penyedia layanan yang bersangkutan. Konsumen yang lain (yang punya waktu dan lebih ‘cerdas’) memilih bukan hanya menyampaikan ke internal produsen atau penyedia layanan, tetapi juga ke publik. Ada yang mengirimkan keluhan ke surat pembaca media massa, dan berhubung saat akses Internet semakin mudah, langsung mengirimkan via email atau form Surat pembaca. Beberapa konsumen yang memiliki website atau blog, akan memposting keluhan tersebut di website atau blog masing-masing (sampai sekarang masih banyak yang melakukan hal ini). Sementara konsumen yang lain akan memposting keluhan kepuasan konsumen berupa status di media sosialnya (seperti Facebook dan Twitter), belakangan ini keluhan via media sosial banyak disorot oleh media massa. Namun, sangat disesalkan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), sebuah organisasi-lembaga yang bergerak dalam Layanan Konsumen, tidak cukup aktif dan cepat untuk menampung keluhan konsumen. Sangat disayangkan YLKI hanya sebagai “kota mati”, tidak proaktif sebagai lembaga Konsumen Indonesia. Tidak percaya? Silahkan Anda cek sendiri websitenya. Padahal posisi YLKI sebenarnya sangat strategis dan vital dalam hal ini.
*Setelah saya cek, ada beberapa website menyediakan layanan keluhan konsumen, misalnya: MediaKonsumen.com, Konsumen.Org, dsb.

Tentu saja ini sangat menggembirakan, keluhan kita sebagai konsumen akan lebih cepat tersampaikan. Konsumen paling tidak akan merasa lebih tenang jika sudah direspon oleh produsen atau penyedia layanan (meskipun belum tentu akan diselesaikan :p). Ya tentu saja akan semakin cepat ditangani, kalau tidak reputasi produsen atau penyedia jasa tersebut akan turun, kemungkinan terburuk akan “hancur”😀. Selain itu keluhan-keluhan tersebut sangat berguna menjadi track-record, history bagi calon konsumen dalam memilih produk atau layanan, maupun  bagi konsumen dalam menyampaikan keluhan.

Berikut ini adalah ukuran standar cetak foto:

  • 3R = 8,89 x 12,7 cm = 3,5 x 5 inchi
  • 4R = 10,16 x 15,24 cm = 4 x 6 inchi
  • 5R = 12,7 x 17,78 cm = 5 x 7 inchi
  • 8R = 20,32 x 25,4 cm = 8 x 10 inchi
  • 10R = 25,4 x 30,48 cm = 10 x 12 inchi
  • 12R = 30,48 x 39,37 cm = 12 x 15,5 inchi
  • 16R = 40,64 x 50,8 cm = 16 x 20 inchi
  • 20R = 50,8 x 60,96 cm = 20 x 24 inchi
  • 24R = 60,96 x 80 cm = 24 x 31,5 inchi
  • 30R = 75 x 100 cm = 30 x 40 inchi

Tidak dapat dipungkiri gereja adalah salah satu institusi yang tidak transparan mengenai masalah keuangan. Beberapa lembaga gereja tidak memiliki sistem keuangan yang baik, bahkan dengan sengaja dibiarkan buruk sehingga peluang manipulasi tersedia. Banyak kasus penggelapan dan penyunatan harta “Tuhan” yang terjadi demi kepentingan pribadi pimpinan dan dewan-dewan gereja. Contohnya sangat banyak, masih segar diingatan kita kasus penjualan tanah PSKD di samping Kantor PGI Salemba, juga kasus gereja di Singapura). Bahkan tak jarang Gereja menjadi media pencucian uang (money laundry). Sungguh ironis sekali!

Pada akhir tahun 2015 dan tahun baru 2016 kemarin saya mendapat selebaran/informasi mengenai keuangan gereja. Hal ini tentu saja sangat bagus, dan jujur saja ini sangat terkejut karena hal ini jarang saya temui. Jujur saya hanya membaca sekilas, tidak sampai melakukan crosscheck/audit. Saya kembali terkejut membaca saldo keuangan gereja dengan jumlah dana yang fantastis (ratusan juta, bahkan mungkin miliaran). Dan lebih terkejut lagi ketika pimpinan, dewan, bahkan jemaat membanggakan hal tersebut.

Gereja ( dan pelayanan lainnya) bukanlah institusi yang mencari keuntungan.

Kalau mau cari keuntungan kenapa gak buat jadi PT saja sekalian.

Ini artinya gereja tidak maksimal mengerjakan pelayanan (ok, kita asumsikan bahwa target pelayanan sudah tercapai semua ( yang mana saya sangat meragukan hal tersebut), tapi seharusnya bisa dibuat untuk pelayanan koinonia-marturia-diakonia lain. Gereja dan pelayanan di daerah banyak yang kekurangan dana, comdev (community development) banyak yang belum dikerjakan, pelayanan anak jalanan-marginal. Akh tidak usah jauh-jauh, untuk jemaat gereja sendiri bagaimana? Untuk jemaat yang sakit atau meninggal saja, berapa dialokasikan? Nilai yang diberikan sangat kecil, tidak etis menyebutkan angkanya. Tapi yang pastinya nilai yang diberikan oleh gereja tersebut hanya sumbangan 1 orang di pelayanan persekutuan alumni.

Prinsip ekonomi “menabung”? Kekhawatiran kekurangan dana? Halo, saya bukan orang yang munafik, saya juga khawatir kekurangan dana sehingga saya perlu menabung (meski pada kenyataannya saya tidak pernah bisa menabung). Allah memelihara hidup kita. Saya tidak perlu mengutip ayat-ayat di Alkitab mengenai hal ini. Burung-burung di udara saja Tuhan pelihara, bunga bakung di ladang didandaniNya begitu indah.

Jangan kamu kuatir, burung di udara Dia pelihara …

Jangan kamu kuatir, apa yang kau makan minum pakai …

Jangan kamu kuatir, Bapa di surga memelihara“.

Lagu ini kerap kita nyanyikan di gereja. Nadanya enak, liriknya bagus dan menghibur hati. Apakah gereja belum mengimani hal ini?

Efek dari ketimpangan dana ini salah satunya adalah para pendeta dan pelayan berebut untuk bertugas “melayani” di kota, bahkan tidak segan untuk menyogok pimpinan agar bisa dipindahkan ke kota. Dana dan persembahan perpuluhan atau sukarela dari pribadi jemaat (yang secara umum lebih kaya dibanding jemaat daerah-daerah) adalah madu yang sangat menggiurkan para pelayan Tuhan. Maaf saya tidak ingin berpikiran negatif, tapi memang itulah realitanya.

Saya ingat statement dan nasihat beberapa senioran di persekutuan Kristen “Dana yang tersedia untuk periode tahun tersebut harus dihabiskan untuk periode tahun itu juga”. Itulah sebabnya persekutuan alumni tidak banyak yang memiliki dana yang mengendap, kalau pun ada, jumlah saldonya tidak seberapa. Well, persekutuan alumni memang berbeda dengan gereja yang paling tidak setiap hari Minggu mendapat pemasukan dari persembahan. Persekutuan alumni hanya melaksanakan ibadah bulanan saja, ditambah tidak ada iuran atau persepuluhan, dsb. Itulah sebabnya persekutuan alumni kondisi keuangannya mengutip istilah sekarang “Senin-Kamis”.

Well, sebelum Anda pembaca menghakimi saya kenapa saya tidak menyampaikan langsung ke gereja, kenapa hanya mengkritik saja (mengkritik kan gampang, anak SD juga bisa :p), kenapa dan kenapa, Saya sudah menyampaikannya. Kenapa saya menuliskannya di media sosial yang malah akan membuka “aib/bobrok” bahkan mungkin menyebabkan kemarahan sebagian orang? Sebagai orang yang memiliki latar belakang Teknologi Informasi (dan memiliki visi jadi politisi dan entrepreneur), saya percaya kekuatan media (sosial). Di media ini saya punya banyak teman pendeta dan para pelayan lainnya. Meski kemungkinan mereka membaca catatan ini tidak besar, kemungkinan itu selalu ada. Dengan harapan yang membaca mempunyai pemikiran dan kerinduan yang saya dengan saya. Dengan bersatu dan saling mengingatkan, kuat kita bersama.

 

Matthew 10:8b
“Freely you have received, freely give.”

1 Peter 4:10
“Each of you should use whatever gift you have received to serve others, as faithful stewards of God’s grace in its various forms.” (NIV)

1 Corinthians 12:4-6
“Now there are varieties of gifts, but the same Spirit; and there are varieties of service, but the same Lord; and there are varieties of activities, but it is the same God who empowers them all in everyone.” (ESV)

Exodus 35:10
“All who are skilled among you are to come and make everything the Lord has commanded.” (NIV)

Matthew 25:15a
“To one he gave five talents, to another two, to another one, to each according to his ability. Then he went away.” (ESV)

Solanin

Solanin (ソラニン)… Ya Solanin. Bagi pecinta manga, mungkin Anda sudah pernah membacanya.. Ya, sebuah manga yang ditulis oleh Inio Asano. Solanin akhirnya difilmkan dengan judul yang sama (tahun 2010), dengan lagu yang sama (single ke-14 band Asian Kung-Fu Generation : vocalist Masafumi Gotō, guitarist Kensuke Kita, bassist Takahiro Yamada, and drummer Kiyoshi Ijichi). Liriknya sendiri ditulis oleh Inio Asano juga.

 

 

Omoi chigai wa sora no kanata
Kesalah pahaman berada di luar angkasa
Sayonara dake no jinsei ka
Apakah hidup hanya di isi dengan perpisahan?
Hon no sukoshi no mirai wa mieta noni
Kupikir aku melihat sekilas masa depan yang nyata
Sayonara nanda
Tapi sekarang selamat tinggal

 

Mukashi sundeta chiisa na heya wa
Ruang kecil yang dulu ku tinggali
Ima wa dareka ga sunden da
Sekarang orang lain yang menempati
Kimi ni iwareta hidoi kotoba mo
Bahkan kamu mengatakan hal-hal menakutkan kepadaku
Muda na ki ga shita maichini mo
Aku sudah menyia-nyiakan hariku

 

Ano toki koushite ireba, ano hi ni Modorereba
Mungkin jika aku mengambil kesempatan itu, aku akan kembali menjadi yang dulu
Ano koro no boku ni wa mou, Modorenai yo
Tapi aku tidak bisa kembali menjadi orang yang sama

 

Tatoeba yurui shiawase ga
Bahkan jika ini tidak pernah berakhir bahagia
Daratto tsuzuita to suru
Entah bagaimana harus bertahan
Kitto warui tane ga me wo dashite
Saya yakin benih(awal) buruk yang akan muncul
Mou sayonara nanda
Jadi sekarang selamat tinggal

 

Samui fuyu no hieta kan koohii to
Kaleng kopi pada musim dingin yang membeku
Niji iro no nagai mafuraa to
Panjang, berwarna pelangi
Kobashiri de rojiura wo nukete
Aku berjalan melalui gang belakang
Omoidashite miru
Ini semua datang kembali

 

Tatoeba yurui shiawase ga
Bahkan jika ini tidak pernah berakhir bahagia
Daratto tsuzuita to suru
Entah bagaimana harus bertahan
Kitto warui tane ga me wo dashite
Saya yakin benih (awal) buruk yang akan muncul
Mou sayonara nanda
Jadi sekarang selamat tinggal

 

Nanda
Sebuah Perpisahan
Nanda
Sebuah Perpisahan
Nanda
Sebuah Perpisahan

 

Sayonara, sore mo ii sa
Selamat tinggal, aku tidak peduli
Doko ka de genki de yare yo
Kau akan melanjutkannya di suatu tempat
Sayonara, boku mo doo ni ka yaru sa
Selamat tinggal, aku dapat mengatur sendiri entah bagaimana
Sayonara, sou suru yo
Selamat tinggal, itulah yang aku akan lakukan

skorean_honorifics_lesson

 

*Image taken from a manghwa (I forgot exactly the title :D)