Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘media massa’

Sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan ini, tapi gak sempat-sempat (rasanya waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu itu kurang :D). Pas sempat. kadang lupa (yah…mau gimana lagi, usia memang tidak pernah bohong :lol).
Belakangan ini saya sering tidak puas dengan pelayanan maupun produk yang saya pergunakan. Mungkin berhubung karena sudah banyak makan asam garam (usia memang sudah tidak terlalu muda lagi :lol), atau karena ekspektasi yang saya harapkan terlalu tinggi (ada banyak faktor, salah satunya harga produk atau layanan yang memang cukup mahal, kualitas produk maupun pelayanannya tidak sebanding), saya sering mengeluh.

Keluhan saya biasanya saya sampaikan secara langsung, belum pernah menggunakan media (saya dari dulu sudah tahu YLKI dan Surat Pembaca di berbagai media massa). Salah satu yang membuat saya malas menggunakan media untuk menyampaikan keluhan adalah kemungkinan dianggap melakukan pencemaran nama baik, fitnah, atau apa pun istilahnya (Masih segar dalam ingatan kasus Prita Mulyasari – Rumah Sakit Omni Internasional), dan jujur saja saya sedikit takut (dulunya). Faktor lainnya adalah saya takut jika saya punya urusan lain di kemudian hari akan dipersulit. Yah pada dasarnya saya ingin bermain aman. Pernah dulu ada masalah dengan layanan perbankan (kejadiannya tahun lalu), namun saya memilih untuk “melawan dalam diam”, melawan tanpa kekerasan istilah kerennya (orang bilang ini adalah “Ahimsa” ajaran Mahatma Gandhi). Ya cukup sekali saja, setelah itu saya tidak akan menggunakan layanan atau produk tersebut (jika tidak terpaksa :D).

Nah, kali ini saya tidak akan membahas banyak mengenai rasa malas atau takut untuk menyampaikan keluhan konsumen, yang pastinya bukan hanya dialami oleh saya sendiri, tapi ada banyak orang yang saya yakin mengalami hal yang sama. Mungkin akan saya tuliskan lain waktu. Fokus saya peran media massa, Internet, dan YLKI.

Dengan adanya Internet, harus saya akui informasi keluhan konsumen sangat cepat disampaikan. Produsen maupun penyedia layanan rata-rata sudah punya website yang menyediakan layanan konsumen, nomor telepon, email, chat dan berbagai layanan di websitenya. Bahkan juga membuat akun di sosial media, sebut saja Twitter dan Facebook; selain sebagai media promosi-marketing, akun sosial media tersebut juga menjadi sarana layanan konsumen. Sebelum tren ini muncul (yang mana juga salah satu pengaruh e-commerce), konsumen memilih menghubungi via telepon dan atau mengirimkan surat kepada produsen atau penyedia layanan yang bersangkutan. Konsumen yang lain (yang punya waktu dan lebih ‘cerdas’) memilih bukan hanya menyampaikan ke internal produsen atau penyedia layanan, tetapi juga ke publik. Ada yang mengirimkan keluhan ke surat pembaca media massa, dan berhubung saat akses Internet semakin mudah, langsung mengirimkan via email atau form Surat pembaca. Beberapa konsumen yang memiliki website atau blog, akan memposting keluhan tersebut di website atau blog masing-masing (sampai sekarang masih banyak yang melakukan hal ini). Sementara konsumen yang lain akan memposting keluhan kepuasan konsumen berupa status di media sosialnya (seperti Facebook dan Twitter), belakangan ini keluhan via media sosial banyak disorot oleh media massa. Namun, sangat disesalkan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), sebuah organisasi-lembaga yang bergerak dalam Layanan Konsumen, tidak cukup aktif dan cepat untuk menampung keluhan konsumen. Sangat disayangkan YLKI hanya sebagai “kota mati”, tidak proaktif sebagai lembaga Konsumen Indonesia. Tidak percaya? Silahkan Anda cek sendiri websitenya. Padahal posisi YLKI sebenarnya sangat strategis dan vital dalam hal ini.
*Setelah saya cek, ada beberapa website menyediakan layanan keluhan konsumen, misalnya: MediaKonsumen.com, Konsumen.Org, dsb.

Tentu saja ini sangat menggembirakan, keluhan kita sebagai konsumen akan lebih cepat tersampaikan. Konsumen paling tidak akan merasa lebih tenang jika sudah direspon oleh produsen atau penyedia layanan (meskipun belum tentu akan diselesaikan :p). Ya tentu saja akan semakin cepat ditangani, kalau tidak reputasi produsen atau penyedia jasa tersebut akan turun, kemungkinan terburuk akan “hancur” :D. Selain itu keluhan-keluhan tersebut sangat berguna menjadi track-record, history bagi calon konsumen dalam memilih produk atau layanan, maupunĀ  bagi konsumen dalam menyampaikan keluhan.

Iklan

Read Full Post »